Berbicara tentang dia, hingga saat ini masih saja dirinya menari - nari dalam benakku.
Mengagumi orang yang sulit dipahami. Memikirkan orang yang bahkan sangat jarang bersinggungan. Bodoh. Seandainya aku bisa memilih aku juga tidak ingin menjadi "Si Bodoh". Namun ketika hati telah menentukan dan mengukir sebuah nama maka apa yang mampu dilakukan raga dan pikiran.
Lagi - lagi, bodoh. Bahkan komunikasi kalian tidak baik. Bahkan dia tidak menjawab pertanyaanmu. Bahkan dia tidak mengulurkan tangan saat kamu meminta pertolongan. Bahkan dia, tak sungguh - sungguh kamu kenal.
Benar - benar bodoh. Mengagumi orang yang tak pernah memalingkan wajahnya padamu. Mengagumi orang yang tidak ingat namamu. Mengagumi orang yang tak pernah menyapamu. Mengagumi orang yang kamu sangat jarang berbicara langsung dengannya. Mengagumi orang yang tak terengkuh. Mengaguminya dalam diam, dalam semu. Dasar bodoh.
~siang selayaknya senja di kpft~
Senin, 02 Desember 2013
Kebaikan yang Sederhana
Kebaikan itu tidak harus digembar – gemborkan, tidak harus
dilihat orang. Kebaikan itu bukan hanya sesuatu yang berdampak besar bagi orang
disekitar kiat. Namun kebaikan itu adalah hal yang sederhana, tak perlu
diketahui banyak orang dan datangnya tulus dari hati.
Seperti biasa di pagi hari saya pergi ke kampus untuk
kuliah. Berhubung ingin mengembalikan buku yang telah dipinjam dari teman
– teman maka saya membawa buku – buku itu dan menaruhnya dalam plastik yang saya
gantungkan ke cantelan motor. Selesai memarkir motor di mustek dengan santai
saya pergi ke jurusan untuk kuliah dan juga melakukan beberapa aktivitas lain.
Ketika di ruang kelas pelajaran berjalan dengan santai. Dosen menerangkan dan
saya sedikit – sedikit mendengarkan. Kemudian tiba – tiba hujan turun dengan
lumayan deras. Gelombang rasa kantuk pun menyerang. berusaha menahan diri agar tidak kalah dalam peperangan ini. Saya bertahan dan menyerang dengan mencoret - coret kertas. Akhirnya tabuh kemangan datang, jam pelajaran usai.
Keluar dari kampus saya menuju mustek. Dalam perjalanan tiba - tiba teringat tentang buku yang tergantung di motor. Rasa cemas mulai menyergap pikiran saya. Bagaimana jika buku pinjaman itu basah karena hujan deras tadi?? Segera saya menuju motor. Lalu ternyata?? Buku - buku itu tidak ada di cantelan pada motor. Namun dibagian bawah motor, tempat saya biasa memijakkan kaki (motor saya matic), terdapat sebuah buntelan dari jas hujan. Saya sangat kenal jas hujan itu. Tentu saja karena jas hujan itu biasa saya letakkan di bagasi motor bagian depan (kalo saya sih biasa bilangnya laci motor). Jas hujan itu memang milik saya. kemudian saya membukan buntelan jas hujan itu dan di dalamnya terdapat buku - buku yang ingin saya kembalikan. Bersyukur sekali buku itu tidak basah sama sekali, benar - benar kering. Di dalam hati saya bertanya - tanya siapa orang baik yang mau membantu itu.
Terima kasih.
Kebaikan benar - benar sesuatu yang sederhana tapi dapat membawa manfaat bagi orang lain.
Keluar dari kampus saya menuju mustek. Dalam perjalanan tiba - tiba teringat tentang buku yang tergantung di motor. Rasa cemas mulai menyergap pikiran saya. Bagaimana jika buku pinjaman itu basah karena hujan deras tadi?? Segera saya menuju motor. Lalu ternyata?? Buku - buku itu tidak ada di cantelan pada motor. Namun dibagian bawah motor, tempat saya biasa memijakkan kaki (motor saya matic), terdapat sebuah buntelan dari jas hujan. Saya sangat kenal jas hujan itu. Tentu saja karena jas hujan itu biasa saya letakkan di bagasi motor bagian depan (kalo saya sih biasa bilangnya laci motor). Jas hujan itu memang milik saya. kemudian saya membukan buntelan jas hujan itu dan di dalamnya terdapat buku - buku yang ingin saya kembalikan. Bersyukur sekali buku itu tidak basah sama sekali, benar - benar kering. Di dalam hati saya bertanya - tanya siapa orang baik yang mau membantu itu.
Terima kasih.
Kebaikan benar - benar sesuatu yang sederhana tapi dapat membawa manfaat bagi orang lain.
Jumat, 22 November 2013
Mungkin dia begitu bodoh
Gadis
itu terdiam. Bayang – bayang masa lalu melintas kembali dalam pikirannya. Dia
menyesal, sangat menyesal. Teringat luapan cinta dan kasih sayang yang
melingkupinya dulu, yang merengkuhnya dalam tawa dan canda. Namun kali ini dia
menangis ketika semua itu membayanginya, karena dialah yang meninggalkan itu
semua.
Kasih
sayang untuknya begitu berlimpah. Semua menyayangi dan tertawa padanya. Namun
dia, dia justru menutup mata. Menutup mata dari kehangatan dan kebahagiaan yang
selama ini melingkupinya. Ini karena kesalahannya dia sibuk mencari hakekat
cinta, kasih sayang dan kebahagiaan. Selama ini dia terus berjalan untuk
mencari itu. Dia terus berjalan hingga merasa kepayahan dan terus mencari. Dia
begitu sibuk dalam pencariannya. Hingga ia tak sadar bahwa cinta, kasih dan
kebahagiaan ada di hadapannya, membersamainya selama ini. Akan tetapi matanya
senantiasa tertutup, padahal cinta, kasih dan kebahagiaan itu begitu dekat.
Cinta
itu selama ini senantiasa menguatkannya. Kasih itu selama ini senantiasa melindunginya.
Lalu kebahagiaan, selama ini senantiasa ada bersamanya.
Hingga
akhirnya ia sampai pada sebuah titik dan membuka mata. Menyadari segala apa
yang ada untuknya. Sayang semua terlambat, waktu telah tiba pada penghujung.
Akhirnya semua hilang, semua pudar dan jarak menjadi pemisah. Semua sudah
pergi, sebelum ia sempat mengucap terima kasih atas segala curahan cinta, kasih
dan kebahagiaan yang diberikan padanya. Walau dia tahu mungkin terima kasih itu
tak diharapkan.
Gadis
itu terdiam. Pandangannya menerawang mengingat apa yang telah diterimanya.
Gadis itu terdiam, berusaha menyelami ingatannya, berusaha merasakan tiap – tiap
cinta, kasih dan bahagia yang dulu di dapatkannya. Gadis itu terdiam, terbawa
kenangannya. Gadis itu terdiam, hingga sesak menyeruak dalam dadanya ketika dia
sadar semua tak kan pernah kembali. Gadis itu terdiam, dan bulir bulir air mata
itu jatuh tanpa suara.
sumber gambar : http://www.google.com/imgres?start=415&client=firefox-a&sa=X&rls=org.mozilla:id:official&sout=0&tbm=isch&tbnid=YE50AyeBLzwd8M:&imgrefurl=http://health.lintas.me/article/rameteo.blogspot.com/ini-7-kunci-kebahagiaan&docid=aeKpD7i3NORNvM&imgurl=http://i.brta.in/images/2013-10/068d7fef77ffbb0fed4e7c5b72d5a20b.png&w=395&h=245&ei=eN6PUojaBs_LrQfj7ICYCw&zoom=1&ved=1t:3588,r:22,s:400,i:70&iact=rc&page=20&tbnh=159&tbnw=256&ndsp=25&tx=198&ty=82&biw=1280&bih=667
Minggu, 03 November 2013
Kisah Iblis Menemui Rasulullah SAW
Ketika
kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar,
tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah, "Wahai penghuni
rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku."
Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata, “Ijinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”
Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian siapa yang memanggil?”
Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Beliau melanjutkan, “Itu Iblis, laknat Allah bersamanya.”
Umar bin Khattab berkata, “Ijinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”
Nabi
menahannya, “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah
memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu
untuknya, sebab dia telah diperintahkan oleh Allah untuk ini, pahamilah
apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”
Ibnu Abbas RA berkata, “Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.”
Iblis berkata, “Salam untukmu Muhammad,... salam untukmu para hadirin...”
Rasulullah SAW lalu menjawab, “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
”Siapa yang memaksamu?”
”Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata, ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia, jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.’
Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku, tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
1. Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
”Siapa selanjutnya?”
”Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
Ibnu Abbas RA berkata, “Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.”
Iblis berkata, “Salam untukmu Muhammad,... salam untukmu para hadirin...”
Rasulullah SAW lalu menjawab, “Salam hanya milik Allah SWT, sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa.”
”Siapa yang memaksamu?”
”Seorang malaikat dari utusan Allah telah mendatangiku dan berkata, ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia, jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.’
Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku, tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
1. Orang Yang Dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”
”Siapa selanjutnya?”
”Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
Sabtu, 02 November 2013
Berawal dari Sebuah Kata "Terserah"
Berawal dari sebuah kata "Terserah".
Tentu kita pernah mengalami masa kecil. Mana mungkin lahir tau - tau langsung berumur 20 tahun kan? Masa kecil merupakan salah satu rangkaian kita dalam berproses menjadi seperti saat ini. Masa kecil merupakan bagian yang penting pada pembentukan karakter masing - masing individu. Oleh karena itu apa yang terjadi di masa kecil mempengaruhi sikap dan sifat kita ketika dewasa.
Saya belakangan ini merasa bahwa tingkah laku saya di waktu kecil membuat saya menjadi seperti ini.
Saat kecil, saya sering menginap di rumah saudara sepupu saya yang ada di Yogyakarta. Dia perempuan dan lebih tua satu tahun, tapi kami seangkatan. Ketika menginap tante dan om suka membelikan makanan atau menanyakan ingin makan apa kepada kami.
"Nanti mau makan apa mba Nopi?"
"Terserah tante."
"Soto apa sop?"
"Ya terserah tante."
Lalu
"Mba Nopi mau nasi lagi?"
"Ya terserah tante."
"Lauknya mau nambah juga?"
"Emmm, teserah tante."
Sering sekali jawaban dari pertanyaan - pertanyaan ketika masih kecil aku jawab dengan jawaban terserah. Hingga aku sering diledek oleh om, tante dan saudara sepupuku karena terlalu sering mengatakan terserah. Kebiasaan itu berlangsung hingga sekitar 5 - 6 tahun.
Kebiasaan itu ternyata baru aku rasakan pengaruhnya sekarang. Terlalu seringnya aku menggantungkan keputusan ke orang membuatku sulit mengambil keputusan sendirian.
Tentu kita pernah mengalami masa kecil. Mana mungkin lahir tau - tau langsung berumur 20 tahun kan? Masa kecil merupakan salah satu rangkaian kita dalam berproses menjadi seperti saat ini. Masa kecil merupakan bagian yang penting pada pembentukan karakter masing - masing individu. Oleh karena itu apa yang terjadi di masa kecil mempengaruhi sikap dan sifat kita ketika dewasa.
Saya belakangan ini merasa bahwa tingkah laku saya di waktu kecil membuat saya menjadi seperti ini.
Saat kecil, saya sering menginap di rumah saudara sepupu saya yang ada di Yogyakarta. Dia perempuan dan lebih tua satu tahun, tapi kami seangkatan. Ketika menginap tante dan om suka membelikan makanan atau menanyakan ingin makan apa kepada kami.
"Nanti mau makan apa mba Nopi?"
"Terserah tante."
"Soto apa sop?"
"Ya terserah tante."
Lalu
"Mba Nopi mau nasi lagi?"
"Ya terserah tante."
"Lauknya mau nambah juga?"
"Emmm, teserah tante."
Sering sekali jawaban dari pertanyaan - pertanyaan ketika masih kecil aku jawab dengan jawaban terserah. Hingga aku sering diledek oleh om, tante dan saudara sepupuku karena terlalu sering mengatakan terserah. Kebiasaan itu berlangsung hingga sekitar 5 - 6 tahun.
Kebiasaan itu ternyata baru aku rasakan pengaruhnya sekarang. Terlalu seringnya aku menggantungkan keputusan ke orang membuatku sulit mengambil keputusan sendirian.
Aku Belajar Diam
Sekarang fitri lagi belajar buat diam.
Jujur menghadapi kalian semua itu rasanya berat. Melihat kalian yang sulit untuk dikumpulkan. Melihat alasan ijin kalian yang bagiku kurang masuk akal. Melihat kalian yang sulit diajak berdiskusi. Dua bulan saudaraku, dua bulan lagi. Apakah tidak boleh aku meminta prioritas kalian untuk di tempat ini?
Dua bulan, dua bulan lagi saja.
Fitri juga butuh kalian, butuh kalian untuk berjalan bersama, berlari bersama. Dua bulan ini, kita ingin meninggalkan tempat itu dengan peninggalan terbaik kan?
Jujur menghadapi tuntutan kalian itu berat, karena kalian menuntut tanpa tahu kondisi, tanpa memberi solusi. Menanggapi tuntutan kalian hanya membuat hati ini terasa semakin sesak. Maka rasanya ingin mengeluarkan semuanya dengan kata - kata. Namun jika begitu, emosi yang akan mengambil alih.
Oleh karena itu mulai sekarang aku belajar untuk diam. Diam menanggapi tuntutan kalian, aku diam. Aku akan diam dan bergerak, tanpa peduli kalian mau berkata apa. Aku akan bergerak, aku akan melakukan daripada aku sibuk memikirkan kalian. Aku, aku akan menerima. Semoga diamku tidak membawa kesulitan pada diriku dan justru menjadi sebuah pelajaran berharga.
Sumber gambar: http://wanwma.com/agama/didikan-rasulullah-tentang-diam/
http://wanwma.com/agama/didikan-rasulullah-tentang-diam/
Aku Paham
Ternyata sudah bulan November. Ga kerasa waktu berlalu begitu cepat. Parahnya Oktober kemarin berlalu tanpa satu tulisan pun yang aku buat. Paraaaah banget, padahal sudah berniat dalam hati untuk menulis minimal satu bulan satu tulisan dan tidak tercapai :(
Belakangan entah kenapa merasa semakin sulit untuk menulis dan merangkai kata - kata. Butuh waktu bermenit - menit hanya untuk memikirkan satu atau dua kalimat. Rasanya menyebalkan sekali. Lebih mudah mengungkapkan apa yang dipikirkan dengan kata - kata daripada tulisan. Namun aku paham, menulis itu berbeda. Menulis itu membawamu tenggelam ke dalam alur kisah yang kamu ciptakan. Menulis itu berbagi dengan yang lain, berbagi rasa, berbagi cerita, berbagi ilmu. Menulis itu menyisakan jejak, jejak bahwa kita pernah ada.
menulis. Aku paham, karena itu aku berusaha. Aku paham, karena itu aku akan belajar, belajar untuk menyukai menulis.
sumber gambar: yannemenulis.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)