Halaman

.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Sebuah Realita



Rumah Seng

Awalnya aku tertarik dengan sisi lain dari kisah ini. Akan tetapi karena keingintahuanku sendiri, ketertarikanku menjadi berubah. Mari kita mulai saja ceritanya
 Cerita kali ini berlatar tempat tinggalku. Sebuah desa yang masih dikelilingi dengan sawah, tapi sekarang lahan sawah yang ada semakin berkurang. Di desa ku terdapat sebuah Universitas swasta yang cukup besar. Jadi tempat tinggalku bukanlah tempat tinggal terpencil di pelosok yang belum ada warnet (warung internet). Bahkan di sini warnet mulai kehilangan pamornya. Maklumlah mahasiswa sekarang banyak yang memilih menggunakan laptop
Lama menimba ilmu dan juga bermain - main di Yogyakarta, akhirnya tiba juga saat untuk pulang ke rumah. Seperti biasa sampai di rumah adalah saat untuk beristirahat dari kegiatan perkuliahan. Bahkan terkadang satu dua pesan yang masuk berhubungan dengan urusan kampus juga malas untuk di jawab. Begitulah karena benar – benar ingin beristirahat jauh dari itu semua untuk sementara. Meski sering juga terkena ocehan Ibu karena terlalu banyak “beristirahat”.
Kisah ini dimulai dari ketertarikanku pada sebuah rumah yang dindingnya teerbuat dari seng. Yang ku maksud bukan rumah unik dari seng yang di buat oleh arsitek ternama. Akan tetapi rumah dari seng yang di berdirikan sejajar sehingga terbentuk dinding. Seng yang di berdirikan tidak tertata rapi, tingginya juga tidak sama. Ada selisih tinggi seng yang di gunakan untuk dinding walaupun tidak terlalu banyak. Seng yang digunakan ada beberapa yang terlihat kecoklatan karena berkarat. Rumah ini bukan didirikan oleh arsitek ternama, tapi mungkin didirikan oleh orang yang tidak terbesit dalam pikirannya tentang desain rumah. Jika saja rumah seng ini dapat di sebut rumah.

Rabu, 31 Juli 2013

Buber Keliling



BUBER KELILING


InsyaAllah ini bukan tentang buber di mana aku cari ta’jil di masjid seperti biasanya. Akan tetapi ini tentang berbuka bersama saudara – saudara yang ada di Solo. Yuk mari kita simak ….



Seperti biasa ketika pulang kampung, banyak hal yang harus di lakukan. Selain makan tidur dan sibuk di depan laptop, membantu orang tua menjadi kewajiban tersendiri. Namun yang ini bukan tentang kewajiban, tapi rutinitas. Salah satu rutinitas setiap pulang kampung ketika Bulan Ramadhan adalah mengikuti buka bersama. Buka bersama teman – teman sekelas, atau teman organisasi. Kebetulan untuk tahun ini ada lima acara buka bersama yang harus dihadiri. Akan tetapi karena beberapa alasan jadi aku memilih menghadiri tiga acara di antaranya.



Buka puasa bersama pertama pada tanggal 25 Juli 2013. Buka puasa ini diadakan oleh adik – adik organisasi di PMR. Pada hari itu aku baru saja pulang dari Yogyakarta. Sebenarnya ingin langsung datang, tapi saat itu aku tidak menggunakan pakaian batik. Padahal buber PMR selalu identik dengan pakaian batik. Selesai berganti pakaian di rumah, waktu menunjukkan pukul lima lebih. Sudah dekat dengan waktu berbuka, rasanya aku tidak ingin datang saja. Datang mendekati berbuka seperti ini pekewuh rasanya. Akan tetapi karena sudah berjanji datang pada teman, akhirnya kuusahakan datang.
Ruangan aula SMANSA penuh dengan orang – orang menggunakan pakaian batik. Alhamdulillah pesertanya banyak. Acara berjalan lancar dan menyenangkan kami sharing beberapa hal, diantaranya perkembangan PMR yang di kelola anak – anak saat ini. Mereka berkembang dengan baik dan tentunya menjadi lebih baik dari kami dulu.  

Tulang Rusuk Tidak Akan Pernah Tertukar



Habibie yang dilahirkan untuk Ainun dan Ainun yang dilahirkan untuk Habibie. Sebuah kata indah yang membuatku yakin di belahan bumi ini telah ditakdirkan seseorang, terlahir di dunia untuk menemani kita. Tulang rusuk tidak akan pernah tertukar.



Begitulah indahnya cinta antara dua insan yang saling memahami. Mengerti satu sama lain. Cinta yang tulus tanpa perlu banyak kata – kata. Ainun memahami Habibie, tanpa permintaan. Menghawatirkan Habibie meski disela – sela rasa sakit. Sedangkan Habibie pada satu titik harus merasakan kehilangan. Kehilangan atas cinta yang hangat. Tentu saja ia tidak ingin, ia ingin Ainun tetap di sisinya menemani. Habibie ingin membalas seluruh kasih sayang yang telah diberikan Ainun. Dia tidak ingin kehilangan. Akan tetapi, kehendak Allah SWT berkata lain. Ya Habibie harus ikhlas. Namun Ainun tidak penah pergi, ia tetap di sana dalam hati dan ingatan Habibie. 



Ingatanku terlempar jauh ke masa lampau. Sebuah kisah cinta yang juga indah. Di masa yang berbeda, tantangan yang berbeda pula. Namun mereka saling menguatkan, saling memahami. Menjalani  dakwah yang tidaklah mudah. Diterpa cobaan yang begitu berat. Bersama mereka berjuang untuk kebaikan. Membawa manusia ke agama Allah. Benar mereka adalah Muhammad SAW dan Khadijah binti Khuwailid. Cinta yang indah dari Khadijah kepada Rasulullah SAW. Ia memahami Rasullullah.



Ingatkah ketika Rasulullah pulang dari Gua Hira, ketika badan Rasulullah  SAW menggigil setelah menerima wahyu. Apa yang dilakukan Khadijah ? bertanya pada Beliau SAW ? Memberondong Beliau SAW dengan pertanyaan sebagai ungkapan kecemasan ? Bukan, yang dilakukan  Khadijah adalah menyelimutinya, tanpa banyak bertanya.



Ingatkah juga ketika Rasulullah bercerita pada Khadijah, bahwa Beliau SAW adalah utusan Allah. Membawa sebuah agama yang benar, Agama Islam. Khadijah bukan tertawa, tapi dia percaya. Kemudian menyatakan masuk Islam. Wanita yang memahami suaminya, mempercayai dan berbakti padanya.



Rasulullah SAW pun harus kehilangan. Allah SWT memanggil Khadijah terlebih dahulu. Setelah Rasulullah kehilangan paman yang amat disayanginya, kemudian Beliau SAW kehilangan istrinya. Betapa sedih hati beliau. Begitu besar kehilangan yang harus di alami.



Meski tahun – tahun telah terlewat, Rasulullah SAW tetap mengingat Khadijah. Cinta Beliau pada Khadijah begitu besar hingga menimbulkan kecemburuan pada istri – istri yang lain. Pernah suatu ketika ada seorang tamu yang mengetuk pintu rumah Rasulullah. Suara tamu itu begitu mirip dengan Khadijah. Kemudian Rasulullah segera membukakan pintu, ternyata bukan Khadijah. Sebegitu besarnya cinta Rasulullah SAW terhadap Khadijah. Khadijah tetap ada dalam hati dan ingatan Rasulullah. Juga dalam hati dan ingatan kita.



Tulang rusuk tak pernah tertukar. Cinta adalah warna indah dalam kehidupan dunia. Di mana kita selalu ingin memberi, tak peduli berapapun yang ingin di beri. Cinta membuat kita merasa dalam kedamaian. Cinta menawarkan kelembutan dan ketulusan. Cinta kepada manusia memang indah. Namun cinta yang paling indah adalah cinta kepada-Nya yang mengilhamkan cinta dalam hati manusia.

Kamis, 27 Juni 2013

Mutiara




MUTIARA

Banyak orang yang memiliki potensi hebat di sekitar kita. Yang tentunya mampu membawa sebuah organisasi menjadi lebih baik. Permasalahannya terkadang para pemilik  potensi tersebut belum tentu terlihat. Terdapat banyak hal yang menyebabkan mereka kurang terlihat. Saya akan menyebutkan alasan tersebut berdasarkan pengalaman yang saya lalui dan pandangan terhadap keadaan yang terjadi.
Alasan pertama yang membuat seseorang kurang terlihat adalah rasa kurang nyaman dirinya terhadap organisasi tersebut. Pada awal memasuki sebuah organisasi tentu setiap orang mempunyai harapan yang besar akan organisasi yang dia masuki. Meskipun terkadang ada beberapa orang yang memasuki organisasi hanya untuk menambah catatan keaktifan dirinya. Orang – orang seperti mereka punya pandangan tersendiri tentunya, mari kita abaikan dulu. Jika organisasi tidak sesuai harapan, maka yang terjadi adalah rasa kecewa. Sehingga kurang optimal dalam menjalankan tugasnya di organisasi.
Kedua banyak orang yang berpotensi, tapi banyak pula orang yang belum mampu memberi kesempatan agar potensi mereka dapat di keluarkan. Hal yang biasa terjadi pada para ketua adalah mempercayakan suatu tugas kepada orang yang sudah menjadi kepercayaannya. Orang kepercayaan ini biasanya orang yang cepat dalam menerima perintah, selalu menyanggupi perintah ketua, vokal, dan kerjanya sudah diketahui bagus. Itulah yang membuat para orang berpotensi kurang terlihat, karena mereka belum di beri kesempatan. Situasi, keadaan dan permasalahanlah yang dapat mengeluarkan potensi dan membentuk pribadi seseorang. Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya mempercayakan sebuah tugas dalam organisasi pada orang itu – itu saja. Kita harus membuka pandangan dan memeberikan peluang pada orang – orang yang tanpa kita ketahui sebenarnya dia potensial. Betapa menyenangkannya jika ini berjalan, karena kita tidak hanya mengeluarkan potensi tapi juga melakukan sebuah proses pengkaderan bagi anggota kita.
Ketiga kurang teberdayakan, dan ada tempat yang lebih memberdayakan.  Ini dapat dikatakan gabungan antara kedua alasan di atas. Banyak orang berpotensi dalam sebuah organisasi. Akan tetapi, jumlah yang banyak tersebut justru membuat sebagian orang berpotensi kurang terberdayakan. Mereka kurang memiliki peran yang penting dalam organisasi tersebut. Saat – saat seperti itu datanglah tugas dari organisasi lain yang mereka ikuti. Mereka lebih terberdayakan, lebih di tugaskan. Secara manis tapi nyata, mereka lebih dibutuhkan. Di sana mereka dapat bekerja lebih optimal dan dapat meyumbangkan energi serta ide – ide. Sedikit menyakitkan, ketika kita sadar ternyata dia begitu gemilang di sana. Bukan di sini, bersama kita.
Begitulah, ada begitu banyak orang berpotensi di sekitar kita. Mereka layaknya mutiara, yang bersinar. Terlepas dari faktor internal kemauan diri, terkadang lingkungan sekitarlah yang membuat mutira itu kurang mengkilap. Bagaikan mutira dalam lumpur, yang kurang bersinar karena lingkungan.Padahal sebenarnya ia adalah mutiara yang indah.

Jumat, 12 April 2013

Senyuman










Senyuman.
Memberi kebermanfaatan bagi orang lain.
Membawa pertemuan menjadi indah.
Membuat kemurungan terurungkan.
Membantu mengusir kesedihan dia, mereka.
Senyuman.
Dalam duka sedalam apapun.
Dalam kemalangan sebesar apapun.
Dalam musibah sesulit apapun.
Dalam kesal  yang membuncah.
Dalam haru yang menyesakkan
Add caption
Lakukanlah,

Karena ia akan memberikan kekuatan.
Mendatangkan kesanggupan dalam diri.
Bukan hanya untuk kita,
 tapi juga,                  
Membawa kebahagian bagi  orang yang kita temui.
 Senyuman.
Indah.
Membuat kita menyadari dan bersyukur atas hidup
Bahwa hidup tak sesulit itu.
Bahwa dengan banyak membagi kebahagiaan,
meski  kesulitan melanda,
membuat kita merasa lebih kuat, lebih tenang
Senyuman.
Tersenyumlah sahabat,
mari kita berbagi kebahagiaan,
sesulit apapun keadannya,
mari kta mencoba,
menebar kebahagian.